KEMBALI

Ibu, andai aku tahu jalan kembali menuju rahimmu….

Sakit….

Kalimat-kalimat tanpa hati itu meluncur ringan dari mulutnya. Sebuah kaleng minuman ringan, dilemparnya begitu saja ke mukaku. Nyaris saja…

 

Hatiku merintih. Tak ada lagikah yang bisa kau lakukan selain menyakitiku?

Tawa itu telah hilang setahun lalu. Kebersamaan yang kau janjikan tak lebih dari angin surga, yang hembusan anginnya kau belokkan ke neraka. Susah payah kukumpulkan hatiku menyerpih, meski akhirnya kau remukkan lagi. Kemana kau yang dulu?

Kau datang membawa cinta. Begitu manis. Seperti kado berpita merah.

“Nina, maukah kau menjadi istriku?” tanyamu. Kau membungkuk, mencium punggung tanganku.  Permintaan yang indah ya? Wanita manapun pasti serasa terbang ke awan, menjadi peri kecil dengan tongkat ajaibnya yang sanggup mengubah dunia.

Pesta pernikahan sederhana, tak mengurangi bahagiaku yang melimpah ruah. Kau menjadi anugerah terindah, lebih mahal dari tumpukan kado di pojok kamar yang bahkan tak sempat kubuka.

Aku merasa, mengenalmu selama 2 tahun, lebih dari cukup untuk menilai pribadimu. Aku tak buta. Aku tak tuli. Aku merasa. Kaulah pria sesungguhnya diantara dunia pria.

“Ayah.., ibu.., ini Rio. Kami ingin menikah dalam waktu dekat ini. Mohon direstui..” pintaku takdzim.

“Kami percaya kau, Nina. Pilihan hidupmu adalah keyakinanmu. Kata hatimu, itulah yang akan membawamu bahagia..”

Ya, aku begitu bahagia ketika cincin melingkar agung di jari manisku. Semenjak itu aku akrab dengan doa. Doa syukur untuk hidupku yang nyaris sempurna.

Bahagia.

Seperti dulu saat kami masih menjadi satu keluarga. Ayah; seperti penjaga di istana Cinderella, ibu; seperti koki untuk 4 saudaraku lainnya, Kakak laki-lakiku; yang ketika marah bermata merah mirip raksasa, dan kakak perempuanku; 2 gadis yang manja. Keluarga kami memang tak sempurna. Tapi kami selalu punya cara sederhana, membuat ayah dan ibu tertawa.

Kini? Segaris senyumpun tak mampu kuukir.

Maaf ibu… aku tak bisa membuatmu tersenyum melihat bahagiaku.

Maaf ayah… Aku tak bisa lagi mengirimkan kisah Cinderella dengan kereta kencana. Kereta itu kembali berubah jadi labu tak beroda.

Semua tak berakhir indah. Tapi tak mungkin bagiku untuk membiarkan kalian melihat hatiku yang berdarah.

Bahkan kau. Apa kau tahu hatiku begitu sakit?! Kuberikan hatiku, semua cintaku, curahan doaku. Kuluruhkan semua dalam kepasrahan.

Demi Tuhan, kucinta kau….

Aku tak menyesal mendapatkan ini, meski apa yang kulakukan tak pernah berarti. Sebuah kesalahan akan terus kau ingat seperti bau yang tak kan hilang busuknya. Semua kebenaran, menjadi salah. Semua ketulusan, menjadi beban. Kelembutanmu tlah jadi amarah yang harus kutelan mentah-mentah.

Caci maki, tamparan di pipi… Apa lagi?!

Aku bahkan harus minum obat pereda nyeri tiap hari. Untuk bertahan hidup. Rasa sakit di dadaku terlanjur membuat sesak, menyumbat nafas. Aku bahkan tak peduli jika tumpukan residunya membuatku terkena scirosis suatu hari. Yang mengantarku menuju mati.

Buatku, lebih baik aku kehilangan waktu. Seperti juga aku kehilangan kesempatan untuk melakukan banyak hal yang belum sempat kukerjakan.
Kini waktu telah menjelma bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintaiku dalam kegelapan. Siap menghunuskan pisau ke dadaku yang berdebar. Debaran yang nyaris kulupakan rasanya. Debaran yang satu tahun lalu menyapaku dan mengulurkan kebahagiaan abadi, hampir abadi, sampai ketika sang pembunuh tiba-tiba muncul dengan sebilah belati.

Kau!!

Kini, tak ada lagi yang patut diresahkan. Semua cinta sudah kau lupakan.

Tapi, kucinta kau….

Kadang dalam tidur imajinasiku memberontak terbang. Mengepakkan sayap bersama dengan burung-burung dan kupu-kupu.  Fantasi masa kecilku. Mengantarku kembali ke rahim ibuku. Tapi mimpi juga terbatas waktu.

Mimpi itu bisa mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan di pintu luar kamar. Dan sinar matahari yang menerobos jendela.

Tapi aku akan membuat mimpi lagi malam ini. Mengubah alarm menjadi jam satu malam. Saat kau terlelap. Aku tak akan pernah membuatmu marah lagi. Bersamaan dering alarm ini, aku akan pergi.

Malam  ini, suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan ayahku. Yang mengajakku ke tempatnya. Di keabadian yang tak tergantikan. Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkanku melupakan masa lalu, dan menciptakan masa depanku sendiri.

Aku tak takut. Bukankah manusia sudah menerima hukuman mati tanpa pernah tahu kapan hukuman ini akan dilaksanakan?

Aku sudah tak ingin menunda waktu. Aku tak kan merampas bulan supaya matahari selalu bersinar. Aku juga tak ingin menghantamkan palu ke arah jam hingga suara alarmnya bungkam. Waktu terlanjur berjalan hingga sampai pada titik ini. Aku akan menyelamatkan secuil hatiku, ke tempat yang tak lagi bisa kau sentuh. Ke dunia jiwa tak ber-raga, yang tak diterima Tuhan-nya. *** (ann- Lifestyle Edisi 66 Maret 2011 )

 

Posted by on Mar 25th, 2011 and filed under Cerpen. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response by filling following comment form or trackback to this entry from your site

Leave a Reply

Refresh Image
*