Bandeng Juwana

Bandeng Juwana

Dibangun dengan Visi

Bandeng Juwana

Bandeng Juwana

Dulu, oleh-oleh atau buah tangan pelancong yang datang ke Kota Semarang hampir bisa dipastikan adalah lumpia. Itu sebabnya Ibukota Provinsi Jawa Tengah ini dijuluki kota lumpia. Tapi itu puluhan tahun silam. Sekarang tersedia banyak pilihan oleh-oleh khas Kota Semarang yang bisa dihadiahkan buat keluarga, sejawat dan sahabat. Salah satu diantaranya adalah bandeng presto duri lunak.

Kota Semarang sudah sejak lama menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara. Baik untuk wisata sejarah, wisata rohani dan wisata alam. Salah satu pendukung sukses tidaknya suatu daerah menjadi tujuan wisata adalah ketersediaan kuliner dan oleh-oleh khas. Kebutuhan tersebut sangat disadari oleh dr. Daniel, pendiri PT Bandeng Juwana Erlyna Group, 30 tahun silam.

“Usaha ini dirintis ayah mertua saya bapak dr. Daniel dan ibu mertua Ida Nursanty pada tahun 1981. Alasan orangtua saat itu sebenarnya cukup klasik. Sebagai seorang dokter Pegawai Negeri Sipil (PNS) merasa gaji yang diterima hanya pas-pasan untuk menghidupi keluarga dengan 3 anak. Maka Bapak dan Ibu berusaha mencari penghasilan tambahan dengan membuka usaha bandeng presto. Awalnya hanya berupa counter dekat tempat praktek dokter Daniel Jl. Pandanaran No. 57,” kata Arif Hanggowijoyo Kusmadi, SE, Direktur PT Bandeng Juwana, yang tak lain adalah memantu tertua dr. Daniel.

Masih menurut penjelasan Arif, sesungguhnya Bandeng Juwana merupakan usaha bandeng presto ke-8 di Kota Semarang, bukan perintis pertama. Tetapi lokasi pengusaha bandeng ini terpencar di berbagai tempat. Hanya Bandeng Juwana yang di Jl. Pandanaran.

Ada perbedaan mendasar pengelolaan Bandeng Juwana dengan pengusaha lain. Sebab umumnya pengusaha lain membidik segmen pasar warga Semarang penggemar aneka menu masakan. Misalnya PNS dan pegawai swasta. Makanya mereka buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore layaknya jam kantor. Hari libur dan hari besar lainnya tutup.

Tetapi Pak Daniel dan Ibu Nursanty memiliki visi yang jauh ke depan, menjadikan bandeng presto duri lunak sebagai oleh-oleh bagi mereka yang mampir di Kota Semarang atau warga Semarang yang akan bepergian ke kota lain. Itu sebabnya sejak awal counter Bandeng Juwana sudah buka jam 6 pagi dan tutup jam 10 malam. Termasuk hari libur, tetap buka.

TUMBUH BERSAMA

Bandeng Juwana

Bandeng Juwana

Sekarang cita-cita dr. Daniel telah menjadi kenyataan. Bandeng presto sudah menjadi salah satu ikon Kota Semarang yang bisa ditemukan di sederet toko pusat penjualan oleh-oleh Jalan Pandanaran. Tersedia juga di berbagai counter di Bandara Ahmad Yani, stasiun Tawang, loket-loket bus Executive class Jl. Dr. Cipto dan berbagai tempat lain.

Meski toko bandeng makin banyak di sepanjang Jalan Pandanaran, tidak dianggap sebagai pesaing. “Kami sangat bersyukur makin banyak toko bandeng di Jalan Pandanaran. Kehadiran mereka tidak kami anggap sebagai pesaing. Mungkin kalau hanya kami yang memproduksi, tidak bisa mengangkat Kota Semarang sebagai ikon Kota Bandeng. Tapi dengan adanya ratusan produsen sehingga tersedia banyak pilihan bagi pelangan. Makanya kalau ada pelanggan menanyakan mana toko X misalnya, staf kami akan menunjukkan atau bila perlu mengantar konsumen tersebut ke toko X dimaksud. Karena kami yakin pelanggan punya alasan dan punya hak untuk memilih. Kami pun tidak bisa meng-claim bahwa bandeng kami paling enak. Semua tergantung taste seseorang,” kata alumni FE Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Yang paling menyolok adalah ‘keikhlasan’ manajemen Bandeng Juwana memperbolehkan Pedagang Kaki Lima (PKL) di pekarangan depan, tepatnya pintu masuk tokonya. Padahal para PKL ini menjajakan produk sejenis. Jual bandeng, wingko, pia, dll.

“Orang tua kami selalu mengajarkan penerapan kasih dalam berbisnis. Padahal kalau dikatakan keberadaan mereka mengganggu, bisa masuk akal juga. Tapi buat kami mari kita tumbuh sama-sama. Semua punya segmen pasar sendiri, dan berkat buat kita sudah ada yang mengatur,” kata ayah dari 2 anak ini.

BERBAGAI VARIAN

Bandeng Juwana

Bandeng Juwana

Salah satu kendala bandeng presto untuk dibawa bepergian jauh adalah daya tahan hanya 2 hari di luar kulkas. Tapi kelemahan itu sudah teratasi setelah menggunakan alat vakum dan pakazing khusus, kini ketahanannya bisa mencapai 3 bulan. Cuman bedanya, hasil vakum kadar airnya lebih sedikit sehingga lebih keras dari pada bandeng duri lunak. Solusinya biar bandeng vakum empuk kembali, cukup dikukus sebentar sebelum digoreng dan dihidangkan.

Kini toko Bandeng Juwana Erlyna Group tidak lagi sekedar menyediakan bandeng presto dengan berbagai varian rasa. Tapi juga tersedia wingko, pia, brownies, lapis legit, bika ambon, prol durian, dan aneka kue kering yang diproduksi Dryana Bakery.

Untuk memudahkan layanan kepada pelanggan, PT Bandeng Juwana siap mengirim paketan ke hotel atau ke tempat lain di Semarang. Bahkan pesanan bisa dikirim ke luar kota setelah uang ditransfer.

PENUH PERJUANGAN

Sekarang PT Bandeng Juwana Erlinya Group memang sudah cukup besar. Tapi itu bukan tercipta dalam semalam. Sebagaimana diuraikan di depan tulisan ini, meski sudah melakukan terobosan buka lebih pagi tutup lebih malam, tapi tidak mudah meyakinkan pelanggan untuk membeli produk baru.

“Ibu (almarhumah) sering mengisahkan kepada kami, saat baru pertama buka, dimasak 10 ekor yang laku hanya 3 ekor. Bahkan kadang-kadang tidak laku sama sekali. Memang sulit sekali meyakinkan orang untuk menerima produk Bandeng Juwana, karena memang sudah ada perusahaan sejenis yang lebih dulu. Tetapi meski mengalami kesulitan, orang tua kami tetap optimis bahwa suatu saat usaha ini akan berkembang. Dan puji Tuhan, sekarang usaha ini setidaknya bisa mempekerjakan 100 karyawan,” kata Arif.

Tentang pemilihan nama usaha Bandeng Juwana yang sudah mendapat hak patent dari Kementerian Hukum & HAM, memang Ibu Nursanty berasal dari Juwana, Pati. Bandeng dari Juwana memang dikenal gurih, tidak bau tanah. Maka awalnya semua bahan baku didatangkan dari Juwana. Tetapi seiring dengan pertumbuhan pengusaha bandeng yang sekarang mencapai ratusan, permintaan semakin tinggi dan petambak di Juwana kewalahan.

Sehingga Bandeng Juwana sekarang bermitra dengan petambak di sekitar Semarang saja seperti Bulusan Demak, Kaliwungu Kendal, Comal Pekalongan. Dengan tetap concern pada qualitas. Ikan tidak bau tanah size atau ukuran tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Robinson Simarmata

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Refresh Image

*

You may use these HTML tags and attributes: